Arsip Blog

Atap Gelombang dari Bahan Aluminium Kemasan Daur Ulang

Aluminium foil bekas kemasan bisa diubah menjadi atap bangunan. Ruang di bawah atap pun menjadi lebih adem dan tetap sehat tentunya.

Sejak tahun 2007, PT. Sapta Lestari Perdana berusaha untuk memproduksi sebuah material atap gelombang yang diolah dari material daur ulang kemasan minuman. Bekerjasama dengan Tetrapak, PT. Sapta Lestari Perdana berhasil membuat atap yang tahan panas, tahan tekanan,  memiliki daya pantul terhadap sinar matahari, serta membuat udara di bawah atap jauh lebih dingin dibandingkan dengan penggunaan atap asbes.

Menurut  Indra Wiguna, CEO PT. Sapta Lestari Perdana, material tetrapak ini bisa dibilang berkategori green . Bahan baku didapatkan dari kerjasama dengan pengepul sampah di hampir seluruh kota besar Indonesia. Dari bahan baku tersebut bisa diproduksi 400 lembar per hari material Polylum Eco Roof. Material ini pun terus dikembangkan baik secara bentuk dan kualitas. “Kami terus mengujicoba kekuatan material ini, baik dengan merendamnya di air, atau mengujicoba dengan panas sinar matahari.”

”Sejauh ini material tidak berubah bentuk saat direndam lebih dari tiga bulan,” ujar Indra. Material ini memang ditujukan untuk menggantikan material asbes yang mulai 2011 dilarang digunakan karena bersifat karsinogen (penyebab kanker). Keberhasilan penggunaan material ini ternyata sudah menjangkau Brazil dan India Bahkan Brazil termasuk salah satu pelopor pengembangan material ini. Menurut Indra, negara lain seperti India dan Brazil pun sudah mengembangkan produk ini dan sukses.

Proses pembuatan dimulai dari pemilihan material alumunium foil dan plastik kotak kemasan, lalu dimasukkan ke dalam mesin press sebesar 40bar dengan panas 280 derajat celcius selama 10menit. Setelah itu didapat lembaran-lembaran atap gelombang yang kemudian dipotong menjadi ukuran 180cmx80cm. Sisa potongannya diolah lagi menjadi produk baru berupa papan yang bisa menggantikan fungsi papan tripleks.

Foto: iDEA/Ricardo de Melo

UPVC, Material Baru untuk Atap Rumah

Inovasi merupakan bagian dari proses tumbuhnya manusia. Tanpa ada inovasi, manusia akan sulit untuk berkembang. Salah satunya pada atap. Inovasi atap semakin memudahkan kita mendapatkan keamanan dan kenyamanan.

Salah satu penelitian yang terbaru dilakukan pada pengembangan bahan atap atau genteng. Bahan alternatif atap ini terbuat dari UPVC (Unplasticized Polyvinyl Chloride ) dengan lapisan ASA/PMMA (Acrylic ). Atap dengan bahan tersebut memiliki koefisiensi penghantar panas sebesar 0,325 w/m, atau sepertiga kali dari atap tanah liat, seperlima kali dari atap semen. Dengan begitu, ruangan dengan atap ini menghasilkan udara yang nyaman dan jauh lebih sejuk.

Atap yang terbuat dari bahan tanah liat, asbes, metal, atau aspal memang banyak digunakan masyarakat di Indonesia. Namun pada dasarnya dari bahan-bahan tersebut ada yang tidak tahan terhadap korasi ataupun yang mengandung zat beracun dengan tingkat toksisitas tinggi. Berbeda dengan atap bahan UPVC, percobaan dilakukan dengan mencelupkan atap UPVC selama 24 jam ke dalam  larutan HCL (Hydrochloric Acid ) konsentrasi 6% dan NaOH (Sodium Hydroxide/Caustic Soda ) konsentrasi 20%. Hasilnya, atap dengan bahan ini memiliki ketahanan terhadap korosi yang biasa disebabkan oleh asam, basa, solvent dan garam.

Keunggulan dari atap UPVC ini pun teruji dalam perubahan cuaca. Dibantu dengan desain atap/genteng yang fleksibel di kedua sisinya, pemuaian dan penyusutan yang diakibatkan perubahan cuaca dapat diminimalisir. Selain itu bahan ini tidak menghantar listrik sehingga tidak akan terbakar apabila terkena petir. Bahan ini sangat cocok digunakan untuk atap atau genteng pabrik maupun perumahan, baik di daerah sekitar pantai ataupun dengan daerah dengan tingkat polusi tinggi.

Sumber: Elite Roof

Foto: iDEA/Indra Zaka Permana

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.